ngalam
Cari artikel

Budaya & Sejarah

Sejarah Gedung SMA Tugu Malang: Sekolah Kolonial 1931

Sejarah Gedung SMA Tugu Malang: kompleks sekolah kolonial 1931 karya Ir. W. Lemei, dari HBS/AMS Belanda hingga SMA Negeri 1, 3, 4.

Oleh LexDiperbarui ± 6 menit baca

Alun-alun Tugu Malang dengan monumen tugu dan Balai Kota di latar belakang
Alun-alun Tugu Malang dengan monumen tugu dan Balai Kota di latar belakang. Foto: Christophe95 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Tepat di jantung Kota Malang, menghadap Alun-alun Tugu yang bundar, berdiri sebuah kompleks sekolah tua yang menyimpan hampir seabad sejarah pendidikan Indonesia. Warga Malang mengenalnya sebagai SMA Tugu, kompleks yang menaungi SMA Negeri 1, SMA Negeri 3, dan SMA Negeri 4 Malang dalam satu kawasan.

Dibangun pada tahun 1931 oleh pemerintah Hindia Belanda, gedung ini bukan sekadar sekolah tua. Ia adalah saksi perubahan zaman: dari sekolah elit khusus anak Belanda, menjadi saksi pendudukan Jepang, hingga menjadi salah satu SMA negeri paling bergengsi di Jawa Timur seperti sekarang.

Sekilas SMA Tugu

Informasi Detail
Nama populer SMA Tugu
Penghuni SMA Negeri 1, SMA Negeri 3, SMA Negeri 4 Malang
Alamat Jl. Tugu Utara No. 1, Klojen, Kota Malang
Dibangun 1931
Fungsi awal HBS dan AMS (sekolah menengah era Belanda)
Arsitek Ir. W. Lemei (Landsgebouwendienst)
Gaya arsitektur Kolonial, karakter villa
Status Kompleks sekolah aktif

Sejarah Berdirinya Gedung SMA Tugu

Halaman dalam kompleks SMA Tugu Malang dengan lorong dan taman
Halaman dalam kompleks SMA Tugu. Foto: Mokhammad Misdianto / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Sekolah untuk dua dunia

Pada awal abad ke-20, Malang adalah salah satu kota penting di Jawa Timur dengan populasi Eropa yang besar. Kebutuhan akan sekolah menengah pun mendesak. Pemerintah Hindia Belanda membangun kompleks sekolah ini pada tahun 1931 di dekat kawasan Alun-alun Bunder, yang kini dikenal sebagai Alun-alun Tugu.

Kompleks ini menampung dua jenis sekolah yang mencerminkan segregasi pendidikan kolonial. HBS (Hoogere Burgerschool) diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan kalangan Eropa, sementara AMS (Algemeene Middelbare School) adalah sekolah menengah untuk umum, termasuk pribumi. Dua dunia yang berbeda, dalam satu kompleks yang sama.

Dibangun bersamaan dengan Balai Kota

Pembangunan gedung sekolah ini dilakukan bersamaan dengan pembangunan Balai Kota Malang. Keduanya dirancang di lokasi yang kala itu direncanakan menjadi pusat pemerintahan Kota Malang, sehingga pemilihan lahannya sangat strategis.

Namun ada perintah khusus dari perancangnya. Agar tidak menyaingi kemegahan gedung Balai Kota yang menjadi simbol kekuasaan, gedung sekolah ini sengaja dibuat sesederhana mungkin: satu lantai dengan desain berkarakter villa. Kesederhanaan yang disengaja inilah yang justru memberi kompleks ini pesonanya hingga kini.

Arsitektur: Simetris di Lahan yang Tidak Simetris

Gerbang SMA Negeri 1 Malang di Jalan Tugu Utara No. 1
Gerbang SMA Negeri 1 Malang. Foto: Mokhammad Misdianto / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Perancang kompleks ini adalah Ir. W. Lemei dari Landsgebouwendienst atau Jawatan Gedung Negara. Ia menghadapi tantangan yang tidak biasa: lahan yang tersedia tidak simetris karena berada di kawasan alun-alun yang berbentuk bundar.

Untuk menciptakan bangunan sekolah yang simetris di atas lahan yang melingkar, Lemei dituntut memutar otak dengan perhitungan yang rumit. Hasilnya adalah kompleks yang tampak harmonis dan seimbang meski lahannya sendiri tidak beraturan, sebuah pencapaian arsitektur yang patut diapresiasi.

Meski target awalnya bangunan satu lantai, Lemei tetap mengkombinasikan beberapa bagian berlantai dua di dalam kompleks tanpa merusak kesan keseluruhan yang rendah dan membumi. Lorong-lorong beratap, halaman dalam yang teduh oleh pepohonan besar, dan detail kayu pada kusen menjadi ciri yang masih bisa dilihat hingga hari ini.

Dari HBS/AMS menjadi SMA Negeri

Perjalanan kompleks ini mengikuti pasang surut sejarah Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), HBS dan AMS ditutup. Kota Malang sempat tidak memiliki sekolah lanjutan tingkat atas, sampai pada tahun 1944 didirikan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Jalan Celaket No. 55.

Setelah kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1946, kegiatan sekolah pindah ke gedung di Jalan Alun-alun Bundar, Tugu Utara No. 1, gedung yang kita kenal sekarang. Dari sinilah lahir SMA Negeri 1 Malang, yang kemudian berkembang hingga kompleks ini menaungi tiga SMA negeri: SMA Negeri 1, SMA Negeri 3, dan SMA Negeri 4.

Hingga kini, ketiganya termasuk sekolah favorit di Malang Raya. Banyak tokoh nasional dan daerah tercatat sebagai alumni kompleks ini, meneruskan tradisi keunggulan yang dimulai sejak era kolonial.

Cerita Mistis yang Melegenda

Tidak lengkap membahas SMA Tugu tanpa menyinggung cerita yang membuatnya terkenal di kalangan pecinta horor. Beredar kisah tentang bercak merah di lantai yang dipercaya sebagai bercak darah dan konon muncul kembali meski sudah dibersihkan berkali-kali. Cerita ini dikaitkan dengan masa lalu gedung sebagai tempat penyiksaan pada zaman perjuangan.

Kisah ini sudah menjadi legenda urban yang dibahas luas, bahkan pernah diliput oleh YouTuber cerita horor Nessie Judge dan dibahas di stasiun televisi Korea Selatan. Terlepas dari kebenarannya, cerita ini telah menjadi bagian dari memori kolektif warga Malang tentang gedung tua ini.

Lokasi dan Cara ke SMA Tugu

Alamat: Jl. Tugu Utara No. 1, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Kompleks SMA Tugu berada tepat di sisi Alun-alun Tugu, alun-alun bundar yang menjadi salah satu ikon Kota Malang. Di tengah alun-alun berdiri monumen tugu yang dikelilingi taman bunga yang terawat, dan di seberangnya berdiri megah Balai Kota Malang.

  • Angkot: hampir semua trayek yang melintasi pusat kota melewati kawasan Tugu.
  • Kendaraan pribadi: dari Stasiun Malang Kota Baru, hanya sekitar 5 menit ke arah barat laut.
  • Jalan kaki: kawasan ini sangat ramah pejalan kaki, cocok digabung dengan wisata heritage.

Tips Berkunjung ke Kawasan Tugu

  1. Gabungkan dengan wisata Alun-alun Tugu. Taman di tengah alun-alun sangat fotogenik, terutama pagi hari. Dari sini kamu bisa melihat tiga ikon sekaligus: monumen tugu, Balai Kota, dan kompleks SMA Tugu.
  2. Lihat dari luar pagar. Kompleks ini adalah sekolah aktif, jadi kunjungan ke dalam area sekolah dibatasi. Arsitekturnya tetap bisa dinikmati dari sisi jalan dan gerbang.
  3. Datang saat Car Free Day. Kawasan Tugu kerap menjadi bagian rute CFD Malang, suasananya meriah dan bebas kendaraan.
  4. Mampir ke Balai Kota. Gedung yang dibangun bersamaan dengan kompleks sekolah ini juga layak dikunjungi untuk melengkapi cerita sejarahnya.
  5. Jelajahi heritage Malang lainnya. Setelah dari Tugu, lanjutkan ke Gereja Kayutangan atau kawasan Ijen Boulevard yang juga kaya bangunan kolonial.

Pertanyaan Seputar SMA Tugu

Apa itu SMA Tugu?

Sebutan populer untuk kompleks sekolah di Jalan Tugu Utara No. 1 Malang yang menaungi SMA Negeri 1, SMA Negeri 3, dan SMA Negeri 4 Malang.

Kapan Gedung SMA Tugu dibangun?

Tahun 1931 oleh pemerintah Hindia Belanda, awalnya untuk HBS dan AMS.

Siapa arsiteknya?

Ir. W. Lemei dari Landsgebouwendienst (Jawatan Gedung Negara).

Apakah benar ada cerita mistis di SMA Tugu?

Beredar legenda urban tentang bercak darah di lantai yang muncul kembali. Cerita ini populer di kalangan warga Malang dan pernah diliput media, tetapi kebenarannya tidak terverifikasi.

Apakah umum boleh masuk ke kompleks sekolah?

Ini sekolah aktif, jadi akses ke dalam dibatasi. Wisata arsitektur umumnya dilakukan dari area publik di sekitarnya.

Bagikan artikel ini

Artikel terkait