Prasasti Dinoyo: Bukti Tertua Kerajaan Kanjuruhan 760 M
Prasasti Dinoyo berangka tahun 682 Saka (760 M) adalah bukti tertulis tertua Kerajaan Kanjuruhan dan dasar Hari Jadi Kabupaten Malang.

Prasasti Dinoyo adalah bukti tertulis tertua tentang adanya pemerintahan bercorak Hindu di Jawa bagian timur. Berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi, prasasti ini menjadi saksi bahwa untuk pertama kalinya Jawa Timur muncul dalam sejarah pada tahun 760. Dari prasasti inilah ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Malang setiap 28 November.
Prasasti ini ditulis dengan aksara Kawi atau Jawa Kuno dan berbahasa Sanskerta. Keunikannya, prasasti ini adalah prasasti pertama yang berhuruf Jawa Kuno dipadu dengan bahasa Sanskerta. Penulisan tahunnya memakai sengkala atau candrasengkala yang berbunyi nayana-vasu-rasa: nayana atau mata berarti 2, vasu atau dewa penjaga mata angin berarti 8, dan rasa berarti 6. Ada juga sengkala memet berupa lukisan gajah bersayap di bawah pohon kalpataru.
Kerajaan Kanjuruhan dan Raja Gajayana
Prasasti Dinoyo adalah bukti adanya Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di Kanjuruhan, kini diduga daerah Desa Kejuron, pada pertengahan abad ke-8. Prasasti ini memuat silsilah raja: Dewasimha atau Dewa Singha, lalu putranya Liswa atau Limwa yang setelah naik takhta bergelar Gajayana, dan putri Gajayana bernama Uttejana atau Uttajana yang menikah dengan Pangeran Jananiya.
Isi utama prasasti menceritakan Gajayana yang mendirikan tempat pemujaan untuk Resi Agastya. Arca Agastya yang semula terbuat dari kayu cendana, dibuat oleh nenek Gajayana, diganti dengan arca dari batu hitam. Peresmiannya dilakukan dengan upacara oleh pendeta-pendeta ahli kitab Weda yang beragama Siwa. Raja juga memberi hadiah berupa tanah, lembu, dan bangunan untuk para brahmana dan tamu.
Gajayana digambarkan sebagai raja yang memerintah dengan adil dan dicintai rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi lereng timur sampai barat Gunung Kawi hingga pesisir utara. Kanjuruhan dipandang sebagai tonggak awal pusat pemerintahan yang dua belas abad kemudian berkembang menjadi Kota Malang.
Ditemukan dalam Tiga Pecahan
Prasasti Dinoyo ditemukan di Desa Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, sekitar 5 kilometer sebelah barat pusat Kota Malang. Dinoyo sendiri adalah kawasan pemukiman prasejarah dan diduga merupakan pusat Kerajaan Kanjuruhan.
Menariknya, prasasti ini ditemukan dalam tiga pecahan di tempat dan waktu berbeda. Pecahan pertama ditemukan tahun 1904 di Desa Dinoyo, sedangkan pecahan kedua dan ketiga ditemukan tahun 1923 di Desa Merjosari. Inilah sebabnya sebagian sumber menyebut prasasti ini ditemukan di Merjosari.
Prasasti aslinya kini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor inventaris D. 113.

Jangan Tertukar dengan Prasasti Dinoyo 2
Ada prasasti berbeda yang juga bernama Prasasti Dinoyo 2. Prasasti ini ditemukan tahun 1985 di sekitar pertigaan Jalan MT Haryono dengan Jalan Gajayana, Kelurahan Dinoyo. Berbeda dengan prasasti asli, Dinoyo 2 ditulis dengan aksara Kawi tetapi berbahasa Jawa Kuno, bukan Sanskerta. Prasasti ini memuat dua pertanggalan: 773 Saka (851 M) dan 820 Saka (898 M). Prasasti Dinoyo 2 disimpan di Museum Mpu Purwa, Malang.
Kaitan dengan Candi Badut
Bangunan suci yang disebut dalam prasasti diduga adalah Candi Badut di Desa Karangbesuki. Candi yang ditemukan tahun 1923 ini diduga sebagai candi tertua di Jawa Timur dengan langgam Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali. Di dalam candi ditemukan lingga dan arca Putikeswara sebagai lambang Agastya. Konon nama “Badut” berasal dari kegemaran Raja Gajayana melucu atau mbadhut, meski ini belum ada bukti kuatnya.
Bisa Dikunjungi
Bagi yang ingin melihat langsung, prasasti asli ada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Di Malang sendiri, Museum Mpu Purwa di Perumahan Griya Shanta Blok B No. 210, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, menyimpan Prasasti Dinoyo 2 beserta Makara Dinoyo. Candi Badut di Desa Karangbesuki juga bisa dikunjungi sebagai situs yang terkait langsung dengan isi prasasti.
Artikel terkait

Sejarah Gedung SMA Tugu Malang: Sekolah Kolonial 1931
Sejarah Gedung SMA Tugu Malang: kompleks sekolah kolonial 1931 karya Ir. W. Lemei, dari HBS/AMS Belanda hingga SMA Negeri 1, 3, 4.

Sejarah Gereja Katedral Ijen Malang: Jadwal Misa & Lokasi
Sejarah Katedral Ijen Malang: dari Gereja Santa Theresia 1934 hingga menjadi katedral Keuskupan Malang. Lengkap dengan jadwal misa terbaru, alamat, dan rute.

Sejarah Gereja Kayutangan Malang: Jadwal Misa & Lokasi
Sejarah Gereja Kayutangan Malang: gereja Neo-Gotik tertua sejak 1897. Lengkap dengan jadwal misa terbaru, alamat, rute, dan tips berkunjung.