ngalam
Cari artikel

Wisata

Pantai Sidoasri: Teluk Tersembunyi di Sumbermanjing Wetan

Pantai Sidoasri di Sumbermanjing Wetan adalah teluk kecil berbentuk U yang masih alami, dilindungi Pulau Yangke. Fasilitas minim, wajib bawa bekal.

Oleh LexDiperbarui ± 2 menit baca

Pantai Sidoasri dengan laut biru dan bukit hijau
Pantai Sidoasri dengan laut biru dan bukit hijau. SIDITA Disbudpar Jatim

Pantai Sidoasri adalah teluk kecil berbentuk huruf U yang masih sangat alami, sepi, dan bersih. Pantai ini juga dikenal dengan sebutan Pantai Perawan, yang merujuk pada kondisi alamnya yang jarang terjamah. Dikelilingi pepohonan rimbun dan tebing-tebing hijau, pantai berpasir putih kecoklatan ini memanjang sekitar 1 kilometer.

Pantai ini berada di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Satu kecamatan dengan Pantai Tamban yang sudah pernah ditulis. Nama Sidoasri sendiri adalah nama baru: dulu pantai ini bernama Pantai Tambak Asri karena termasuk wilayah Desa Tambakasri. Setelah terjadi pemekaran wilayah, pantai ini masuk Desa Sidoasri dan dikenal dengan nama baru. Menurut sebagian sumber, sebutan “Perawan” diperkenalkan pertama kali oleh sejumlah mahasiswa Universitas Merdeka Malang saat datang ke pantai ini.

Pulau Yangke Sang Pelindung

Ciri khas Pantai Sidoasri adalah Pulau Yangke, pulau karang besar yang melindungi pantai dari ombak besar khas pantai selatan. Berkat pulau ini, perairan di teluk relatif lebih tenang. Lumba-lumba kadang memasuki kawasan ini, dan penyu datang untuk bertelur.

Perjalanan menuju pantai ini juga indah: hamparan perkebunan cengkeh, kopi, coklat, dan kelapa dengan latar pegunungan.

Rute Menuju Pantai Sidoasri

Jarak Pantai Sidoasri sekitar 60 sampai 66 kilometer dari Kota Malang. Rutenya: dari Kota Malang via Turen, belok kanan menuju Sendang Biru, lalu di Desa Kedungbanteng belok kiri menuju Desa Sidoasri. Ada dua jalur: jalur Dampit yang lebih pendek tetapi rusak, sempit, dan berkelok, atau jalur Sumbermanjing Wetan yang beraspal lebar dan mulus sampai Tambak Asri, tetapi sempit dan banyak ruas rusak setelahnya.

Sangat disarankan memakai motor manual bukan matic karena tanjakan curam, atau mobil SUV dan jeep dengan ground clearance tinggi. Jangan datang saat musim hujan karena air hujan membuat rute makin sulit. Rute ini belum dilengkapi penunjuk arah yang jelas seperti pantai populer lainnya.

Tiket Masuk dan Fasilitas

Soal tiket ada perbedaan informasi antar sumber. Sebagian sumber menyebut ada retribusi kecil sekitar Rp5.000 per orang untuk pemeliharaan akses jalan dan kebersihan. Sebagian lain menyebut gratis karena pantai ini belum dikelola resmi sebagai objek wisata dan tidak ada loket tiket. Siapkan uang tunai secukupnya.

Fasilitasnya sangat minim. Sebagian sumber menyebut belum ada fasilitas sama sekali: tidak ada warung tetap, penginapan, mushola, atau tempat bilas. Ada area parkir sederhana dan toilet yang sangat minimal, serta gazebo kayu sederhana dan spot foto tulisan nama pantai di atas batu. Wajib membawa bekal dan perlengkapan pribadi. Situs resmi Disbudpar Jatim menyebut ada kano dan camping ground.

Kunjungan disarankan pukul 06.00 sampai 17.00 karena minim penerangan di malam hari.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

Pengunjung bisa berkemah untuk menikmati sunset dan sunrise, bermain kano, memancing, berenang dengan hati-hati hanya di dekat bibir pantai karena tidak ada penjaga pantai, berfotografi, dan bila beruntung melihat penyu bertelur atau lumba-lumba.

Bagikan artikel ini

Artikel terkait