ngalam
Cari artikel

Kuliner

Angsle: Minuman Santan Legendaris Khas Malang

Angsle adalah minuman hangat khas Malang berisi petulo, ketan, roti, dan kacang dalam kuah santan pandan. Coba di Ronde Titoni sejak 1948.

Oleh LexDiperbarui ± 2 menit baca

Semangkuk angsle dengan potongan roti dan kacang goreng
Semangkuk angsle dengan potongan roti dan kacang goreng. Foto: Indonesiagood, CC BY 4.0

Angsle atau wedang angsle adalah minuman hangat khas Kota Malang yang menyerupai kolak. Isinya melimpah: petulo atau putu mayang, ketan putih, kacang hijau, potongan roti, sagu mutiara, irisan kolang-kaling, emping belinjo, dan kacang tanah goreng, semuanya disiram kuah santan yang gurih. Budayawan Jawa Timur Dukut Imam Widodo menyebut minuman ini sudah dikenal masyarakat Malang sejak zaman tempo dulu.

Kuah Asli Tanpa Jahe

Fakta menarik: kuah asli angsle hanya memakai daun pandan, vanili, dan santan. Jahe sengaja tidak dimasukkan karena dianggap akan mengubah rasa. Namun karena diberi label “wedang”, sebagian penjual akhirnya menambahkan jahe juga. Kini bahkan ada yang menyajikan angsle dengan es batu, meski aslinya minuman hangat.

Beda dengan Ronde dan Sekoteng

Jangan tertukar dengan ronde dan sekoteng. Ronde memakai kuah jahe yang pedas menghangatkan dengan isi bola-bola ketan berisi kacang. Sekoteng yang lebih dikenal dari Jawa Tengah juga berkuah jahe pedas. Pembeda angsle adalah isian petulo atau putu mayangnya serta kuahnya yang tidak memakai jahe, serai, dan gula Jawa. Kuah angsle yang bersantan terasa gurih dan creamy.

Penjual angsle umumnya juga menjual sekoteng dan ronde. Dulu penjual angsle tradisional berkeliling kampung hanya pada malam hari, karena angsle hangat paling pas disajikan saat malam atau hujan.

Ronde Titoni Sejak 1948

Tempat paling legendaris untuk menikmati angsle adalah Ronde Titoni di Jalan Zainul Arifin No. 17, Malang. Menurut catatan Pemkot Malang, usaha ini dirintis Abdul Hadi sejak 1948 dengan berjualan keliling di sekitar Pasar Besar dan Kidul Dalem. Pada 1970-an ia mangkal di depan toko arloji Titoni, dari situlah nama Titoni berasal. Tahun 1988 ia menetap di Zainul Arifin 17 dan kini diteruskan anaknya, Sugeng.

Menu di Titoni antara lain ronde basah, ronde kering, angsle, kacang kuah, roti goreng, dan cakwe. Harga per porsi sekitar Rp10.000 sampai Rp12.000.

Tempat lain yang bisa dicoba antara lain Angsle dan Ronde Akor serta Ronde dan Angsle Pak Kholil di Jalan Galunggung. Kisaran harga angsle di Malang umumnya Rp6.000 sampai Rp13.000 per porsi.

Bagikan artikel ini